Kita Memang Rumput, Bahkan Lebih Rapuh Dari Itu

  • Faisal
  • 06 September 2017
  • 318
  • Bagikan:
Kita Memang Rumput, Bahkan Lebih Rapuh Dari Itu

Oleh: Hendra Januar - Pengamat Sosial Politik



Kini kita hidup di jaman hoax. Kita sulit membedakan mana informasi yang benar, dan mana yang keliru. Padahal setiap hari, dari bangun tidur sampai tidur kembali, kita dibombardir informasi dari segala arah: sosial media, televisi, koran, atau kabar yang datang dari orang secara langsung.



Karena kita tidak lagi punya standar untuk menetapkan (menjustifikasi) suatu informasi, kita kemudian mudah terpengaruh, mudah emosi, mudah memutuskan sesuatu. Kita ibarat ilalang yang gampang terseok angin.



Pikiran kita dijejali keharusan-keharusan yang tidak kita pahami, tetapi kita manut dan taat. Kita bisa menerima atau menolak sesuatu meskipun kita tidak memahaminya. Benar dan salah menjadi sama dengan suka dan tidak suka. Kalau kita suka, alasan apa pun akan kita bangun guna membenarkannya. Begitu juga sebaliknya, kita akan menyalahkan apa pun yang tidak kita sukai, walaupun sesuatu itu benar.



Dalam skala yang paling ekstrim, kita seperti rerumputan kering yang mudah terbakar oleh sepuntung rokok, dan mudah tumbuh hanya dengan setetes air. Kita tidak lagi punya ketegasan, prinsip, pandangan yang ajeg tentang sesuatu. Kita membuka ruang kompromi seluas-seluasnya dan selebar-lebarnya. Tanpa adanya fondasi yang tetap, epistem yang kokoh, yang menampung kemungkinan itu.



Kita berangsur-angsur menjadi ahli dalam bicara, lihai dalam menulis, pandai dalam mempromosikan sesuatu seolah-olah semua itu adalah tujuan. Memanglah kita ini sudah lupa mana sarana dan mana tujuan. Politik sebagai sarana kita jadikan tujuan, dan Tuhan sebagai tujuan malah kita jadikan sarana atau alat untuk mencapai sesuatu yang lain.



Padahal, kita yang belum selesai dengan diri sendiri ini tengah menghadapi munculnya generasi baru. Anak dan cucu kita mulai tumbuh. Kita gugup dan gagap, tidak tahu secara persis apa yang harus diajarkan dan diwariskan kepada mereka. Kita tidak ingin mewariskan apa yang kita anggap salah, tetapi kita tidak tahu apa yang benar. Mereka, anak cucu kita itu, menjadi manusia-manusia yang linglung. Bahkan kita ajarkan mereka kasih sayang, tapi yang kita contohkan adalah kebencian.



Kita yang masih bimbang ini berusaha mencari jawaban. Kita membuka buku-buku, googling, atau menanyakan langsung kepada orang lain. Sementara orang yang kita ajukan pertanyaan juga belum selesai dengan dirinya sendiri. Pada akhirnya kita krisis figur, krisis guru, tidak ada orang yang benar-benar bisa menyalakan lampu di tengah gelapnya hidup.



Kalau kita bimbang dan gelisah dalam kondisi materi tercukupi itu masih lumayan. Tapi bagaimana bagi orang-orang kecil yang hidup pas-pasan, kepada siapa mereka mengaduh? Dengan enaknya kita berkata, “mereka orang-orang melarat itu, harus ada di dunia sebagai kemestian takdir Tuhan.”



Disarankan untuk anda