Propaganda Sambut Pilkada Kota Bekasi Tidak Pengaruhi Kecerdasan Pemilih

  • Redaksi
  • 27 November 2017
  • 335
  • Bagikan:
Propaganda Sambut Pilkada Kota Bekasi Tidak Pengaruhi Kecerdasan Pemilih (ilustrasi) Bendera Partai Politik

Kabartiga.com, Bekasi – Pemerhati Kebijakan dan Pelayanan Publik Bekasi, Didit Susilo mengatakan, belakangan ini ujaran kebencian dan serangan propaganda negatif kepada Petahana, Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi sudah memobilisasi sentimen secara masif.



Sentimen negatif itu sengaja disebarkan melalui berbagai media sosial, serta group pada aplikasi whats app seperti dugaan ijazah palsu, program kartu sehat dan kampanye dini.



Didit menilai, penyebar menarget untuk menjatuhkan elektabilitas petahana dan terjadinya perpecahan politik di masyarakat, serta mampu mengubah konstelasi politik.



“Jikal kita ulas kebelakang, laboratorium perpolitikan pasca Pilkada DKI Jakarta, yang diwarnai persaingan tajam dua kekuatan politik, dominan mengakibatkan perepecahan politik di tingkat masyarakat, sehingga sulit disembuhkan,” katanya kepada kabartiga.com, Senin (27/11/2017).



Menurutnya, hal tersebut seharusnya menjadi pembelajaran bagi elit politik dan ansirnya, sehingga tidak diadopsi dan dibawa ke Kota Bekasi. Didit menjelaskan, propaganda negatif yang sedang berkembang saat ini tidak akan mempengaruhi kepercayaan masyarakat.



“Bagaimanapun, perpolitikan dengan memanfaatkan propaganda negatif seperti itu menunjukan, bahwa rakyat (pemilih) lebih matang ketimbang para politisi. Saya perhatikan dalam isu yang berkembang berbulan-bulan ini, masyarakat sudah cerdas dalam menyikapi setiap isu yang digulirkan,” pungkasnya.



Didit mengatakan hal tersebut karena melihat sikap kearifan (wisdom) pada masyarkat saat ini, dalam menyikapi isu-isu negatif.



“Pemain politik punya pengetahuan, teori, pemikiran, tetapi tidak punya wisdom, dan masyarakat punya itu (wisdom),” ungkapnya.



Dia menyakini, dengan menggiring opini negatif seperti itu dalam arus politik untuk kepentingan sentimen menuju Pilkada Kota Bekasi 2018, yang direncanakan akan menimbulkan kegaduhan, namun akan sebaliknya.



“Insya Allah rakyat tidak akan menurutinya. Mereka betul-betul berdemokrasi. Membuat kritik, marah, menyalahkan, lalu kemampuan mereka tidak begitu banyak dan mengerahkan masa dan itu bukan kekekuatan berdemokrasi,” ulasnya mengamati.



Kearifan lokal dan kesadaran masyarakat Kota Bekasi tentang hajat Pilkada yang damai telah mampu mengalahkan berbagai propaganda negatif yang terus digulirkan belakangan ini.



Didit, atau yang akrab disapa Mas Didit ini juga mengingatkan, perlu adanya pengendalian informasi yang beredar di medsos seperti menyebarnya informasi salah (hoax).



“Jika dibiarkan terus menerus, masyarakat yang minim pendidikan dan tidak memiliki kemampuan memfilter informasi yang ada di medsos, mereka akan mudah terprovokasi,” jelasnya.



Didit mengharapkan adanya edukasi dari para pelaku politik seperti politisi dan kandidat yang akan mengikuti kontestasi Pilkada. Selain itu perlu juga adanya campur tangan edukasi dari pihak-pihak penyelenggara pilkada.



"Merekalah yang paling dominan memobilisasi isu-isu sektarian, isu-isu SARA. Jadi mereka yang beres dulu," tutupnya.



Disarankan untuk anda