Gerindra Kuda Hitam di Pemilu 2019, Ditengah Perebutan Nomor 1 dan 2 PDIP atau Golkar

  • Redaksi
  • 24 Januari 2018
  • 468
  • Bagikan:
Gerindra Kuda Hitam di Pemilu 2019, Ditengah Perebutan Nomor 1 dan 2 PDIP atau Golkar

Kabartiga.com, Jakarta – Lingkaran Survei Indonesia (LSI) memprediksi, bahwa Gerindra akan menjadi kuda hitam pada Pilpres 2019 mendatang, ditengah perebutan kursi nomor 1 dan 2 Golkar dan PDIP.



Gerindra di prediksi bisa menjadi urutan nomor 1 atau 2, jika Ketua Umum Prabowo Subianto kembali mencalonkan sebagai Calon Presiden atau Wakil Presiden di 2019 mendatang. Survei nasional yang dilakukan LSI ini dilakukan dari tanggal 7 sampai 14 Januari 2018 di 34 Propinsi, dengan responden 1.200, yang dipilih berdasarkan multi stage random sampling.



Hasilnya pun menakjubkan, bahwa hanya ada tiga partai politik yang memiliki dukungan pemilih diatas 10 persen pada pemilu 2019 mendatang, yakni PDIP, Golkar dan Gerindra.



Dalam rilisnya, Denny JA membeberkan, faktor Gerindra bisa menjadi peringkat 1 dan 2 di Pemilu mendatang. Menurutnya, partai Gerindra mempunyai peluang berada di posisi tersebut, jika Prabowo Subianto sukses sebagai Capres atau Cawapres. Figur Prabowo dinilai masih kuat mempengaruhi dongkrak suara partainya.



“Asosiasi Gerindra dengan Prabowo sangat kuat. Sehingga makin Prabowo diterima atau menguat, makin besar peluang Gerindra memperoleh efek elektoralnya,” pungkasnya.



Prediksi Denny ini seperti halnya yang terjadi saat tahun 2009 lalu, saat SBY berhasil mendongkrak partai Demokrat yang terbilang baru menjadi nomor satu.



“Itu bukan karena partai demokrat. Tapi saat itu kuatnya figur SBY yang mampu mengkatrol partai. Prabowo dapat memberi efek yang sama jika ia berhasil menjelma menjadi capres yang sangat kuat,” kata Denny.



Sebelumnya, Denny memaparkan perolehan suara di Pemilu 2014 yang diraih oleh PDIP. Elektabilitas PDIP tahun 2018 ini mengalami penurunan yang cukup drastis, setelah survei LSI pada Agustus 2017, bahwa PDIP memiliki elektabilitas sebesar 28,3 persen.



“Desember 2017, elektabilitas PDIP justru mengalami penurunan, yaitu di angka 22,7 persen. Dan saat ini di Januari 2018 elektabilitas PDIP sebesar 22,2 persen, ya meski angka itu lebih besar dari perolehan suaranya di pemilu 2014 lalu, yang hanya 18,95 persen,” bebernya.



Berbeda dengan PDIP, partai yang juga memiliki pemilih menengah kebawah (wong cilik) ini, justru sebaliknya mengalami kenaikan elektabilitas partai. Kasus E-KTP yang melibatkan Setya Novanto, kata Denny, sempat membuat partai berlambang pohon beringin itu mengalami penurunan elektabilitas.



LSI mencatat, pada Agustus 2017 lalu, posisi Golkar berada di urutan ketiga setelah partai Gerindra, sebesar 11,6 persen. Namun, pasca bergantinya pucuk pimpinan di Golkar, dengan kepimpinan Airlangga Hartato, yang memberikan harapan baru, elektabilitas Golkar pun berubah menjadi 13,8 persen pada Desember 2017.



Kenaikan itu berangsur lanjut di 2018 yang menjadi 15,5 persen. Denny menjelaskan, alasan PDIP mengalami penurunan elektabilitas partai. Pertam kata dia, banyak pemilih yang sebelumnya lari pindah ke lain partai, terutama di tubuh PDIP sendiri, balik kandang ke Golkar.



“Migrasi pemilih antara PDIP dan Golkar bisa terjadi karena kedua partai ini memiliki platform partai yang sama yaitu nasionalis, dan juga memiliki basis dukungan tradisional yang sama yaitu pemilih menengah bawah (wong cilik),” ungkapnya.



Kedua, lanjutnya, adalah sosok Ketua Umum baru Golkar yang memberikan harapan baru bagi partainya. Airlangga dikesankan bersih dan berintegritas membangun kembali kredibilitas partai yang sebelumnya diterpa isu negatif E-KTP.



Ketiga, 3 (tiga) program pro rakyat yang dikampanyekan oleh partai Gokar dibawah kepemimpinan Airlangga Hartarto disukai luas oleh pemilih. Tiga Program pro rakyat tersebut rata-rata diatas 80 % tingkat kesukaan pemilih. Tiga program pro rakyat ini juga yang menarik kembali simpati pemilih wong cilik.



“Partai Golkar berpotensi menjadi pesaing utama PDIP dalam merebut pemenang pemilu 2019. Namun kondisi ini sangat tergantung pada Golkar sendiri. Upaya Golkar untuk me-rebranding partai dengan fokus pada program yang punya daya tarik elektoral dan image ketua umum yang baru akan membantu mendongkrak suara partai,” tutup Denny. 



Disarankan untuk anda