Mengapa ‘Hoaks’ Begitu Cepat Tersebar? Ini Alasannya
Pengamat Media Sosial, DR. Hizkia Yosisas Palimpung, Wakil Dekan I Universitas Bhayangkara Jakarta Raya
KABARTIGA, Bekasi - HOAKS adalah produk kebohongan yang sengaja diciptakan oleh orang tertentu, untuk memecah belah kerukunan berbangsa. Hampir kebanyakan orang menyebarkan hoaks karena dianggapnya menarik. Mereka tidak lagi membaca atau mencari tahu sumber informasi yang didapatnya itu. Sehingga, penyebarannya bisa masif di berbagai media sosial.
Dr. Hizkia Yosisas Palimpung, Wakil Dekan I Universitas Bhayangkara Jakarta Raya menyebut, penyebaran hoaks bisa terjadi karena dibuat semenarik mungkin oleh oknumnya. Sehingga, penerima pesan bohong tersebut, menyukai dan meneruskannya ke berbagai media sosial.
“Hasil penelitian yang dilakukan salah seorang teman saya, kebanyakan orang menyebarkan informasi hoaks ini karena pesannya itu menarik. Sehingga tanpa dibaca dan dicari tahu sumber keaslian informasi itu, mereka langsung menyebarkan begitu saja, baik itu tulisan, foto atau video,” katanya, saat mengisi acara Talkshow Bahaya Hoaks Bagi Pemilih Pemula yang diselenggarakan Forum Jurnalis Bekasi, di SMA Negeri 1 Kota Bekasi, Rabu (13/2/2019).
Menurutnya, kebiasan tersebutlah yang menyebabkan hoaks bisa masuk kesemua elemen masyarakat. Bahkan hasil penelitian di tahun 2018 yang dilakukan DailySocial, facebook menjadi peringkat pertama yang sering digunakan untuk menyebarkan hoaks.
“Riset ini pertama di uji coba di Inggris, kemudian dibawa ke Amerika dan terakhir di Indonesia. Hasil riset tersebut mendata sosial media yang paling sering digunakan untuk menyebarkan hoaks adalah platform facebook. Jika berdasarkan umur, menariknya bukan para kalangan generasi Z (milenial), tetapi usia 65 tahun keatas,” ungkap Hizkia.
Selain itu, hoaks juga menjadi salah satu senjata politik yang kerap digunakan setiap pesta demokrasi. Pasalnya, produk ini dianggap ampuh untuk menjatuhkan atau meningkatkan elektabilitas seseorang di tahun politik.
“Ini penting bagi pemilih pemula, bahwa hoaks itu menjadi salah satu senjata politik. Politik sebenarnya mulia, dalam artian menggunakan kekuasaan untuk kebaikan bangsa dan negara, bukan untuk keuntungan pribadi. Namun, terkadang politik itu disalahgunakan untuk kepentingan pribadi atau golongan, sehingga dengan cara-cara tidak baik, juga dilakukan,” pungkasnya.
Hizkia berharap, para pemilih pemula di Kota Bekasi dapat menyaring setiap informasi yang diterima. Tidak langsung meneruskan kepada orang lain atau menyebarnya di media sosial sebelum dibaca atau dicari tahu terlebih dahulu keaslian pesan yang diterima.
“Kalau kata pak Waka Polres Metro Bekasi Kota, ada istilah saring sebelum share. Nah itu benar, tidak menelan begitu saja pesan atau informasi yang diterimanya. Saya harapkan adik-adik bisa paham soal ini. Pemilih pemula ancaman bagi hoaks, saatnya kita lawan hoaks,” tutupnya.