RS Anna Bekasi Klaim Tidak Lakukan Malpraktek, Ira : Luka Bakar Ini Setelah Saya Keluar Ruang Operasi

  • Redaksi
  • 07 Maret 2019
  • 880
  • Bagikan:
RS Anna Bekasi Klaim Tidak Lakukan Malpraktek, Ira : Luka Bakar Ini Setelah Saya Keluar Ruang Operasi

BEKASI – Rumah Sakit Anna menampik adanya dugaan malpraktek terhadap pasien operasi usus buntu bernama Ira Puspita Rahayu (38), Rabu (6/3/2019).


Operasi yang dijalankan Ira, diklaim berjalan baik dan lancar. Bahkan dokter spesialis bedah yang menangani Ira, menyebut telah menjalani sesuai prosedur rumah sakit.


Tanggal 10 Januari 2019, Bambang Yudhadi, dokter spesialis bedah mengatakan, Ira mendatanginya di poliklinik bedah dan mengeluhkan sakit yang terjadi pada bagian bawah kanan perut, sambil menunjukan hasil Ultrasonography (USG) dari Rumah Sakit Kartika Husada.


“Hasil USG itu menyatakan pasien terkena radang usus buntu. Ini bukan usus buntu akut. Karena ini sudah berjalan lama, sebulan lebih mengalami sakit dibagian perut, kami periksa darahnya, rontgen dan jantungnya. Itu keharusan rumah sakit,” pungkasnya.


Operasi dilakukan pada 14 Januari 2019. Bambang menemukan bintik-bintik merah pada sekitaran pusar Ira, sebelum menjalankan operasi. Hal itu pun ia konsultasikan segera ke dokter kulit, hingga dinyatakan seperti alergi.


“Waktu saya melakukan operasi, ada merah-merah seputar pusar dan pinggang kanan pasien ini. Saya tanyakan lagi ke pasien kenapa ini merah? kata pasien gatel karena di garuk,” lanjutnya.


Menurutnya, Ira adalah pasien lama di RS Anna. Bahkan Ira juga pernah menjalani rawat inap. Hasil pemeriksaan dan rekam jejak, pasien memiliki banyak alergi pada obat. Sehingga, tidak memberikan obat melalui suntikan.


“Pasien merupakan pasien lama kita dan pernah di rawat disini (RS Anna). Pasien banyak banget alerginya, mungkin hampir sekitar 8 hingga 9 obat. Jadi kami hati-hati dengan pasien yang punya alergi. Tidak bisa sembarangan dikasih obat. Itu satu hal kondisi pasien yang perlu disampaikan,” ujar Bambang.


“Saya lakukan operasi dengan baik, saya juga sudah memikirkan secara baik karena pasien ini memiliki alergi yang sangat banyak. Obat apa saja hampir tidak masuk ke dia, saya tidak memberikan obat-obatan yang sangat keras, bisa dilihat record obatnya. Sehingga sampai-sampai saya tidak memberikan obat sakit yang di suntikan, karena saya takut. Saya hanya memberikan obat-obatan lewat mulut,” sambungnya.


Kendati demikian, Bambang mengklaim jika hasil operasi dijalankannya dengan baik. Bahkan alat operasi yang digunakannya sangat modern. 


“Selesai operasi bagus dan tidak ada masalah. Dikamar operasi tidak ada alat-alat yang bisa membakar, semuanya sudah sangat modern kita gunakan. Waktu mau pulang juga, pasien masih merasa gatel di pinggang sebelah kiri,” ucapnya.


Sebelumnya Ira mengeluhkan atas luka bakar pada bagian perut kirinya, setelah operasi selesai. Hal itu diketahui kali pertama oleh pihak keluarga setelah di ruang perawatan.


“Jam 9 malam, saya dikembalikan ke ruang perawatan setelah operasi. Diruang perawatan, keluarga saya melihat seperti luka bakar dibagian perut sebelah kiri saya dan mengeluarkan cairan. Setelah itu, perawat di panggil sama keluarga saya, perawat pun menghubungi dokter. Mereka berasumsi jika saya alergi obat,” kata Ira.


Baca Kabar : Seorang Pegawai Transjakarta Laporkan Dugaan Malpraktek RS Anna Bekasi Ke Menkes


Ira mengaku, jika dirinya pernah menjalani perawatan intensif di RS Anna pada 2018 karena sakit typus. Ia terpaksa berobat ke RS Anna karena sejumlah rumah sakit yang dikunjunginya penuh.


“Selama saya berobat ke RS Anna tahun 2007, saya tidak ada alergi obat dan baru ada alergi obat di tahun 2018, itu juga 3 obat,” ungkapnya.


Luka bakar pada bagian perut kiri Ira, sebelumnya tidak memiliki gejela seperti bisul atau tanda merah. Luka itu ia dapatkan setelah menjalani operasi usus buntu di RS Anna.


“Saya merasakan ini ketika saya keluar dari ruangan operasi. Namanya juga operasi, kita tidak mengetahui apa yang dilakukan dokter,” pungkasnya.


Ia sempat mengeluhkan hal ini kepada dokter spesial bedah, Bambang Yudhadi yang menanganinya. Namun, luka tersebut disebut adalah herpes.


“Seminggu pasca operasi, saya kontrol ke dokter Bambang karena luka bakar ini, dia mengatakan ini herpes dan dia menyarankan ke dokter Citra. Setelah itu saya ke dokter Citra dan diberikan salap,” beber Ira.


Tak kunjung sembuh, Ira pun memberanikan diri menemui dokter Yeni, selaku owner RS Anna, guna meminta pertanggungjawaban atas luka bakar yang dirinya alami.


“Minggu terakhir saya menemui dokter Yeni, selaku owner dan meminta pertanggungjawaban baik-baik dan disitu saya disuruh meninggalkan nomor telpon, tapi sampai detik ini tidak dihubungi. Nah pas tanggal 1 Maret, setelah saya keluar dari RS Mitra Keluarga Timur, pihak RS Anna ke rumah saya untuk membacakan audit medis dan mereka mengklaim tidak terjadi kesalahan prosedur dan hanya sekali,” ungkapnya.


Reporter : Dika 



Disarankan untuk anda