Lawan Hoaks, Malidi Ajak Masyarakat Cerdas Dalam Melihat Konten Berita
BEKASI – Penggunaan Internet di era Digital saat ini menjadi suatu hal yang tidak bisa dihindarkan oleh masyarakat Dunia, karena akses kecepatan informasi yang begitu mudah.
Namun dalam era kecepatan informasi ini, tidak heran jika banyak juga yang memanfaatkan untuk menyebarkan berita palsu atau Hoaks. Biasanya hal ini kerap kita temui dalam jejaring sosial.
Salah satu contoh kasus hoaks pada 2018 lalu, pernah dilakukan oleh Ratna Sarumpaet, yang sengaja menyebarkan kebohongan kepada publik. Ia sengaja membuat narasi seolah telah dianiaya. Kabar penganiayaan itu kali pertamanya beredar pada media sosial Whatsapp.
Menurut Nadia Devita, Ketua Masyarakat Peduli Digital (Malidi), dari 268 juta populasi di Indonesia, lebih dari setengahnya adalah pengguna internet dan 135 juta merupakan mobile sosial media user.
“Ini data dari Januari 2019, dimana Indonesia dengan total populasi diatas 268 juta, tetapi punya lebih dari separohnya orang yang aktif di sosial media dan separohnya 135 juta merupakan mobile sosial media user. Sosial media disini, selain Fecebook, Instagram, dan yang paling marak adalah Whatsapp. Orang boleh tidak punya Facebook, tapi pasti punya Whatsapp group,” ujar Nadia dalam Sosialisasi Cerdas Literasi Digital Sebagai Upaya Menuju Indonesia Maju, yang diselenggarakan Jabar Saber Hoaks, di Balai Patriot Pemerintah Kota Bekasi, Kamis (5/9/2019).
Ada tiga kandungan unsur dalam Hoaks menurut Nadia, pertama informasi yang menyesatkan, kedua disebarkan secara sengaja dan ketiga pada akhirnya banyak informasi sesat yang dipercaya oleh masyarakat.
Hampir kebanyakan, hoaks suka menonjolkan judul informasi yang bombastis. Data yang dimiliki Malidi, ada 59 persen lebih tautan yang disebar tidak pernah di klik oleh si penerimanya. Pada akhirnya, masyarakat percaya begitu saja dengan informasi atau berita yang disebarkan.
“Hampir kebanyakan, hoaks itu memiliki judul atau headline yang menarik seolah bombastis. Nah sebagian besar pelajar kita juga tidak bisa membedakan mana hokas dan bukan,” ulas Nadia.
Nadia menyarankan, ketika mendapatkan informasi palsu, masyarakat bisa mencari berita-berita yang jelas sumbernya. Dengan cara menyebarkan berita benar, maka masyarakat sudah membantu melawan penyebaran hoaks.
“Jika sampai kita menjadi salah satu yang secara tidak sengaja membagikan berita hoaks, maka yang harus kita lakukan membantu kembali menyebarkan berita benar, tentu dengan narasi yang positif,” tutupnya.
Sementara, Sekertaris Daerah Kota Bekasi, Reny Hendrawati mengapresiasi sosialisasi yang diselenggarakan Jabar Saber Hoaks bersama Diskominfo Kota Bekasi. Menurutnya edukasi ini penting, sehingga masyarakat lebih paham cara-cara mengantisipasi penyebaran hoaks.
“Kita melihat ini adalah sebuah edukasi yang diberikan kepada masyarakat. Disini diajarkan agar masyarakat tuh cerdas menyikapi setiap konten-konten berita atau informasi yang diterimanya,” ujarnya.
Kemajuan teknologi informasi, menurutnya dapat menguntungkan, juga dapat merugikan. Menguntungkan yang dimaksud ialah terpenuhinya informasi yang positif. Sementara negatifnya dapat merusak moral dan kecerdasan masyarakat.
“Kalau dulu itu mulutmu Harimaumu, sekarang jarimu Harimaumu. Makanya saya berpesan, jika masyarakat ingin menulis sesuatu atau menyeberkan sesuatu di medsos itu, jangan didasari karena emosional," imbaunya.