Banjir Kepung Gang Mawar Margahayu, Wali Kota Bekasi Dengarkan Keluhan Warga

  • Redaksi
  • 30 Januari 2026
  • 157
  • Bagikan:
Banjir Kepung Gang Mawar Margahayu, Wali Kota Bekasi Dengarkan Keluhan Warga Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto tinjau warga terdampak banjir di Gg. Mawar, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur.

BEKASI — Wali Kota Bekasi Tri Adhianto meninjau langsung lokasi banjir yang merendam permukiman warga di Gang Mawar, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Jumat (30/1/2026). Dalam peninjauan tersebut, Tri mengungkapkan banjir dipicu oleh tingginya debit kiriman air dari wilayah hulu, khususnya Bogor, melalui pertemuan Kali Cileungsi dan Kali Cikeas. 


“Kalau ketinggian air di titik pertemuan Kali Cileungsi dan Cikeas atau P2C sudah menyentuh 500, itu sudah pasti akan naik. Sementara top level yang pernah kita alami bisa mencapai 750 hingga 850,” kata Tri kepada wartawan di lokasi. 


Tri menjelaskan, pada kondisi ekstrem seperti tahun lalu, ketika tinggi muka air mencapai 850, dampak banjir jauh lebih besar dan meluas ke permukiman warga. Saat ini, tercatat sekitar 80 rumah terdampak banjir di wilayah tersebut, khususnya yang berada di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS). 


Dalam kesempatan itu, Tri juga menyoroti adanya bangunan warga yang berdiri di sempadan sungai. Ia menyebut hal tersebut telah diakui secara terbuka oleh warga dan menjadi salah satu faktor yang memperparah dampak banjir. 


“Sudah ada kesepakatan dengan Pak RW dan warga, bahwa akan dilakukan pembongkaran secara mandiri terlebih dahulu. Karena BBWS baru bisa masuk melakukan pembangunan jika lahan sudah clean and clear,” ujarnya. 


Tri memastikan, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) masih memiliki anggaran untuk penanganan Kali Bekasi, termasuk pembangunan pengamanan tebing sungai dengan metode sheet pile. 


“Nanti bentuknya tidak lagi bronjong. Kalau sheet pile itu lebih rapi, manfaatnya lebih besar, dan bisa menahan air dengan ketinggian yang lebih optimal,” jelas Tri. 


Terkait situasi banjir terkini di Kota Bekasi, Tri menyebut kondisi mulai berangsur surut seiring berhentinya hujan. Namun, beberapa wilayah di sepanjang DAS seperti Kali Lengkak masih terdapat warga yang mengungsi. 


“Untuk antisipasi hujan susulan, kami tetap menyiagakan sekitar 300 pompa air. Pompa yang sempat terbakar kemarin juga sudah diperbaiki, dan saat kejadian langsung kami backup dengan pompa mobile dari BBWS,” katanya. 


Saat ini, Pemkot Bekasi mengoperasikan empat unit pompa dengan tambahan satu unit dari BBWS, dengan total kapasitas mencapai 18.000 meter kubik per detik. 


Tri juga menyinggung inovasi penanganan banjir melalui pembangunan sumur resapan dalam di wilayah cekungan. Saat ini, Pemkot tengah mengembangkan sumur hingga kedalaman 40 meter dan berencana menambah hingga 60 meter. 


“Kita sudah coba di Jatiasih dan Bekasi Jaya, hasilnya efektif. Ke depan akan kita mulai dari sekolah-sekolah,” ungkapnya. 


Selain itu, Tri menegaskan keberadaan polder tetap memiliki peran penting meski belum mampu sepenuhnya menahan banjir ekstrem. 


“Polder itu bukan tidak berpengaruh, tapi mengurangi. Coba bayangkan kalau tidak ada polder, airnya akan ke mana-mana. Anomali hujan 9 jam tanpa henti ini memang luar biasa,” tegasnya. 


Terkait rencana pembangunan polder baru, Tri memastikan Pemkot Bekasi kini memprioritaskan pembangunan polder di kawasan Unisma, setelah mendapat dukungan dari pihak Muhammadiyah. 


“Polder itu banyak manfaatnya. Selain cadangan air, bisa jadi ruang terbuka hijau dan tempat rekreasi warga,” pungkas Tri. (AL) 



Disarankan untuk anda