Kota Bekasi Masuk Peringkat Ke Dua HIV di Jawa Barat
Kabartiga.com, Bekasi - Kasus Human Immunodeficiency Virus atau HIV di Kota Bekasi meningkat signifikan, pada tahun 2018. Di Jawa Barat, Kota Bekasi memasuki peringkat ke-2 setelah Kota Bandung. Sementara Kabupaten Bekasi berada di posisi ke-4.
Jaringan Indonesia Positif, membenarkan grafik tersebut dialami oleh Kota Bekasi tahun 2018 ini. Penyebabnya adalah pola hidup masyarakat yang kurang sehat, terlebih akibat pergaulan bebas.
"Kasus ini tidak bisa dikerjakan sendiri oleh kami, selaku penggiat. Tetapi perlu adanya perhatian seluruh masyarakat dan pemerintah," kata Festika Rosani, Ketua Umum Jaringan Indonesia Positif (JIP) kepada kabartiga, kemarin, di RM Margajaya.
Angka tersebut mencapai 1000 jiwa, diantaranya karena seks bebas dan narkotika yang menggunakan jarum suntik.
Menurutnya, dalam satu hari pihaknya bisa menemukan lima penderita HIV positif di satu rumah sakit. Rata-rata pendiritanya adalah anak-anak, yang tertular dari orang tuanya.
"Mereka itu tertular sejak masih dalam kandungan. Biasanya si Ibu yang terkena atau dari si Bapak," ujar Festika.
Ia berharap, dengan melibatkan semua kompenen masyarakat, pada tahun 2030 nanti, kasus HIV dan AIDS di Indonesia bisa hilang. Tidak ada lagi kematian yang disebabkan karena virus tersebut.
"Kita ada target sampai 2030, yang disebut three zero, tidak ada lagi kematian karena HIV-AIDS, tidak ada penularan dan tidak ada lagi diskriminasi terhadap penderita HIV-AIDS. Bagaimanapun mereka adalah saudara-saudara kita yang harus selalu kita support, sebab kebanyakan dari mereka itu tidak mengetahui terinveksi virus tersebut,"pungkasnya.
Sementara, Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Tanti Rohilawati membenarkan angka tersebut dialami oleh Kota Bekasi di tahun 2018 ini.
Dinas Kesehatan Kota Bekasi pun tidak menutup mata, upaya pencegahan seperti sosialiasasi dan pemeriksaan kepada ibu hamil sudah dilakukan.
"Betul. Itu PR kami. Bagaimana pun juga kasus HIV-AIDS itu seperti gunung es. Bukannya berkurang, tetapi malah bertambah karena ini perubahan prilaku yang dilakukan masyarakat," ungkapnya.
Upaya pencegahan melalui sosialisasi dan pemeriksaan yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Bekasi sudah dilakukan seperti melibatkan penggiat-penggiat HIV-AIDS yang ada di Kota Bekasi.
"Kita selali melibatkan. Kita juga ada kumpulan-kumpulan ODHA yang terinveksi virus tersebut dan itu kita perdayakan untuk membantu pencegahan seperti sosialisasi. Konseling dan pengobatan yang selama ini sudah kita lakukan terus berjalan," kata Tanti.
Ia juga mengingatkan kepada masyarakat agar tidak melakukan diskriminasi terhadap penderita HIV-AIDS, sebab selama ini mereka yang membantu pemerintah dalam sosialisasi pencegahan virus tersebut.
"Oleh itu kita berharap agar masyarakat tidak menganggap virus tersebut adalah hal yang tabu, sehingga untuk memeriksakan dirinya di tutup. Oleh itu ini adalah tugas Dinkes dan pendampingan masyarakat agar sama-sama mensosialisasikan agar memeriksan , baik itu yang merasa sehat atau yang terjangkit agar diperiksan dengan yang sudah," tutupnya.
Reporter: Afu
Editor : Muhammad Alfi