Warga Sebut KS NIK Sudah Tidak Sakti Mandraguna
KABARTIGA, Bekasi – Dampak peraturan baru yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Kota Bekasi terhadap peserta Kartu Sehat berbasis Nomor Induk Kependuduk (KS NIK), sebabkan sejumlah pasien di tolak Rumah Sakit.
Hal ini terjadi karena adanya ketentuan baru soal pengguna KS NIK yang tidak dapat digunakan, apabila pasien masih terdaftar aktif di kepesertaan Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS). Ketentuan ini diberlakukan pada 1 Februari 2019.
“Kalau waktu itu, saya masih bisa menggunakan KS untuk keperluan therapy urat saraf yang kejepit, walau BPJS saya aktif. Tapi sekarang sudah tidak bisa lagi karena ada peraturan baru,” kata Budi, seorang warga di Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, yang berobat di RS Awal Bros Bekasi.
Budi mengaku, bukan tidak memiliki kartu BPJS Kesehatan, namun kepesertaannya di BPJS sengaja di non aktifkan akibat keterlambatan pembayaran iuran, sebelum adanya kententuan baru soal penggunaan KS NIK.
“Saya tidak tahu ini ada peraturan baru tentang prosedur penggunaan KS ini, sementara BPJS saya sudah tidak aktif karena waktu itu telat membayar,” pungkasnya.
Budi juga sempat memohon kepada petugas rumah sakit, agar tetap bisa melakukan therapy seperti biasanya. Sayangnya, permohonan itu tetap tidak bisa dilakukan RS Awal Bros. Ia pun diminta untuk segera mengaktifkan kembali sebagai peserta BPJS.
“Tetap permohonan saya untuk bisa therapy pada tulang belakang saya, tidak bisa. Petugas diloket minta saya aktifkan kembali kartu BPJS saya,” ungkapnya.
Menurutnya, peraturan ini belum banyak diketahui masyarakat, sehingga perubahan ketentuan ini menyulitkan pasien sepertinya.
Padahal diketahui sebelumnya, KS ini sempat dianggap sakti mandraguna oleh warga di Kota Bekasi, lantaran jaminan kesehatan di rumah sakit begitu sangat cepat, ditambah dengan pernyataan Wali Kota Bekasi, yang sempat mengancam akan menutup Rumah Sakit penolak KS.
“Meskipun saya peserta BPJS, tetapi tahun lalu pasien pengguna KS masih bisa mendapat pelayanan cepat dan mudah di sejumlah rumah sakit. Tapi, sekarang masyarakat seperti saya ini malah dibikin susah dan seolah tidak sakti lagi seperti dulu kala,” tutup Budi.