Ratusan Siswa di SMAN 8 Kota Bekasi Sebut Kepala Sekolah Otoriter

  • Redaksi
  • 11 Juli 2017
  • 977
  • Bagikan:
Ratusan Siswa di SMAN 8 Kota Bekasi Sebut Kepala Sekolah Otoriter

KABARTIGA.COM, Bekasi – Sejumlah siswa di SMA Negeri 8 Kota Bekasi mengeluh, lantaran kebijakan yang di buat Kepala Sekolah tidak melibatkan guru dan siswa atas penetapan komposisi Rombongan Belajar (Rombel).



Hal ini di ungkapkan oleh Bunga (bukan nama sebenarnya, red), ketika proses menjelang kenaikan kelas 12 di SMAN 8 Kota Bekasi, bahwa tradisi pengocokan komposisi rombel tidak melibatkan guru dan siswa.



“Tiba-tiba kebijakan di rubah, tanpa adanya pertimbangan yang jelas. Saya memang hanya seorang siswa, tetapi saya punya hak untuk ikut memberikan masukan, agar sekolah kita ini lebih baik,” keluh Bunga kepada wartawan, kemarin.



Dulu, sambung Bunga, hal ini tidak pernah terjadi. Setiap kenaikan kelas, komposisi rombel dan wali kelas selalu berubah dan kebijakan itu turut melibatkan berbagai unsur seperti guru, orang tua siswa dan siswa.



“Dulu itu setiap ada kebijakan, pasti di sosialisasikan dulu, tetapi sekarang tidak. Ini sudah semaunya Kepala Sekolah (Kepsek),” ungkapnya.



Kebijakan yang dibuat oleh Kepala Sekolah SMAN 8 Kota Bekasi itu dianggap tak fleksibel. Komposisi rombel tidak berubah pada siswa yang sebelumnya berada di kelas 11.



“Kita butuh teman yang baru, jangan itu lagi yang duduk di satu ruangan seperti waktu kelas 11. Bahkan wali kelasnya pun sama, tidak ada perubahan,” beber Bunga.



Bukan hanya Bunga, Gagah (bukan nama sebenarnya, red) juga mengeluhkan hal serupa. Ia sangat menyayangkan kebijakan yang diputuskan Kepala Sekolah SMAN 8 itu, tidak dilakukan secara musyawarah.



“Kepala Sekolah mengambil kebijakan ini tanpa memikirkan usulan dari siswa dan guru, dia memaksakan keinginannya sendiri,” ujarnya.



Kebijakan otoriter ini sudah dilakukan oleh Kepala Sekolah SMAN 8, semenjak pengambil alihan wewenang SMA dan SMK oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, awal Januari 2017.



“Sekarang peraturan cepet sekali berubahnya, tergantung kemauan Bu Kepsek. Katanya sih sesuai Dapodik, tetapi ini sangat merugikan kami sebagai siswa. Masa saya harus belajarnya sama itu lagi, itu lagi,” ungkap Gagah, menambahkan perkataan Bunga.



Ia beserta siswa lain berharap, Kepala Sekolah dapat mempertimbangkan kebijakannya ini. Musyawarah bersama guru dan siswa adalah solusi untuk memajukan SMAN 8 Kota Bekasi.



“Kebijakan ini sangat dipaksakan oleh Bu Kepsek. Bisa saja nanti kebijakan lain juga dipaksakan, bahkan bisa saja beliau mengganti guru semaunya,” kata dia.



Sekedar diketahui, SMAN 8 Kota Bekasi, yang di Kepalai oleh Sri Mardiati, saat ini memiliki 12 Rombel IPA dan IPS. Siswa berharap, agar dilakukannya pengocokan komposisi di masing-masing rombel dan jurusan.



Reporter : Abdul Rosyad
Editor : Muhammad Alfi



Disarankan untuk anda