Sulitnya Akses Jalan, Bertahun-tahun Warga Terpaksa Lewati Penyebrangan Sablakoa
Potret sejumlah warga saat khendak menaiki Pincara untuk menyebrangi sungai
Kabartiga.com, Sultra – Sulitnya akses jalan yang menghubungkan Desa Wawolahombuti, Kecamatan Pondidaha, Kabupaten Konawe dan Desa Tetenggabo, Kecamatan Sabaloka, Kabupaten Konawe Selatan, masih terus menjadi permasalahan yang dirasakan warga sekitar. Pasalnya dua Desa yang terputus oleh sungai ini tak memiliki jembatan penghubung untuk dilalui.
Hingga saat ini, satu-satunya akses yang diandalkan warga untuk bisa pulang-pergi ke dua Desa tersebut adalah melewati Penyebrangan Sablakoa (sungai yang memisahkan dua desa), dengan menggunakan jasa angkutan semacam perahu berukuran sedang, yang dapat menampung maksimal 10 orang dan 5 motor. Mereka menyebut perahu itu dengan nama Katinting atau Pincara.
Sebagian warga menganggap, menyebrang sungai dengan Pincara lebih efektif, mengingat jarak yang ditempuh hanya 20 menit untuk sampai tujuan. Dibanding harus melewati jalur utama yang membutuhkan waktu lebih dari 3 jam untuk tiba di lokasi tersebut.
Awal, salah satu pengemudi Pincara mengaku, setiap harinya tidak kurang dari 70 orang diantar menyebrangi sungai, di muali sejak pagi hingga sore hari.
“Biasanya bisa 70 orang menyebrang pakai Pincara. Tarif jasa penyebrangan yang dibebankan per orang adalah 5.000 rupiah, kalau untuk sepeda motor, 20.000 rupiah. Kita mulai dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore,” ungkapnya kepada Tim Kabartiga.com, pada Sabtu (16/9/2017), di Pondidaha.
Selain itu, Salam, warga setempat yang mengaku sering menggunakan Pincara mengatakan, tak punya pilihan lain untuk menyebrang kecuali menggunakan Pincara, meskipun perlu menunggu cukup lama. Sebagian warga yang melintasi jalur tersebut, kata dia, kebanyakan untuk keperluan menjual hasil pertanian, belanja bahan pokok, atau bertemu sanak keluarga.
"Kita harus tunggu dulu Pincaranya datang mengantar penumpang, kurang lebih 2 jam baru dia datang lagi. Sudah biasa kita begini. Kadang kalau musim hujan itu bahaya, tapi tetap saja kita lewat sini, meskipun nyawa kita pertaruhkan,” terangnya.
Berdasarkan informasi yang disampaikan Mantan Kepala Desa Wawolahombuti periode 1995-2010, Arifin Samsul, jalur Penyebrangan Sabaloka sudah ada sejak zaman Belanda di tahun 30-an. Dan pihaknya juga sudah pernah mengajukan kepada Pemerintah Daerah agar membangun jembatan penyebrangan untuk warga, namun tidak ada respon dari pihak Pemerintah.
“Sejak zaman Belanda diketahui penyebrangan ini ada. Dibuktikan dengan adanya SK belanda untuk melakukan penyebrangan saat pertama kali digunakan oleh masyarakat setempat. Tahun 2006 juga kita sudah pernah memberikan surat rekomendasi pembangunan jembatan kepada Pemerintah Daerah, tapi sampai sekarang tidak ada realisasi yang jelas,” imbuhnya.
Hingga saat ini, masyarakat masih menaruh harapan besar kepada Pemerintah, mereka berharap permasalahan tersebut menjadi perhatian bersama, agar seluruh pihak terkait dapat segera memperbaiki infrastruktur transportasi yang mereka butuhkan, sehingga mereka bisa menunjang roda prekonomian yang ada di antara Kabupaten, Khususnya antra 2 Desa yang terputus oleh sungai tersebut.
Reporter: Fahmi
Editor: Faizal Haidar