Sekolah di Lombok Ini, Hampir Hilang Harapan

  • Faisal
  • 08 Januari 2018
  • 341
  • Bagikan:
Sekolah di Lombok Ini, Hampir Hilang Harapan Kondisi bangunan sekolah SMPN 3 Jonggat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Kabartiga.com, Lombok - Perayaan tahun baru 2018 telah berakhir, para siswa kini sudah saatnya kembali ke bangku sekolah. Momen itu seharusnya memberikan semangat baru tak hanya bagi murid tetapi juga guru dan staff sekolah. Sayangnya hal tersebut mungkin tidak dirasakan oleh warga Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Jonggat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. 



Pada rilis Komisi Peduli Anak Indonesia, Senin 8 Januari, beberapa fasilitas belajar mengajar di SMPN 3 Jonggat rubuh. Retno Listyarti, ketua KPAI yang saat itu sedang berlibur menemukan keadaan memprihatinkan ini pada pemberitaan sebuah koran lokal.   



“Hati saya tergerak demi keselamatan siswa.” ujarnya.   



Saat mendatangai lokasi, tak hanya disambut reruntuhan bangunan, namun sisa bangunan yang masih bertahan memiliki potensi rubuh yang besar pula. Kunjungan pada Minggu 7 Januari membuat Retno berkesimpulan bahwa sekolah itu sudah tak layak huni.   



Wakil Kepala Sekolah SMPN 3 Jonggat, Subianto mengaku bahwa semangat murid, guru dan staff hampir menghilang akibat keadaan sekolah yang bak reruntuhan rumah paska gempa tersebut. Semisal di ruang komputer, atap yang runtuh menimpa komputer, bangku, dan meja sehingga tak bisa difungsikan kembali. 



“Sekolah ini jauh dari standar pendidikan nasional,” kata Retno.   




Dari total 15 ruang, 8 sudah sirna dan 7 lainnya dalam keadaan kritis. Subianto mengaku pihak sekolah sudah lima kali mengirim proposal dana bantuan pada pemerintah kabupaten. Jawaban tak kunjung datang karena Kepala Dinas Lombok Tengah akan bertindak jika ada jawaban dari Kemdikbud RI.   



Padahal, tanggung jawab atas Sekolah Dasar dan Sekolah Menegah Pertama berada di tangan pemerintah daerah. Jika harus menunggu pemerintah pusat, bisa jadi SMPN 3 Jonggat keburu jadi sejarah. Nasib 328 siswa serta 40 guru dan karyawan nampaknya belum jadi modal bagi pemerintah untuk segera bertindak mengingat hak mereka untuk berinisiatif menggunakan dana APBD. 



Selain kelas yang rusak, sekolah ini hanya memiliki lima toilet dan ruang tata usaha yang hanya terbuat dari sekat. Bahkan di hari hujan, ancaman banjir selalu menghantui aktifitas belajar mengajar. Dari keadaan tersebut, KPAI menyarankan agar pihak sekolah memindahkan kegiatan belajar ke tempat yang lebih aman untuk sementara.  KPAI juga akan bersurat pada Bupati Lombok dan pihak Kemdikbud RI.



Tak hanya merehab bangunan secara total, KPAI menyarankan adanya mutasi PNS untuk melakukan penyegaran tenaga kerja. Selain itu, rekomendasi lain menyebutkan harus ada pemantauan terkait kurikulum 2013 yang nampaknya tidak bisa efektif di sekolah yang tidak memenuhi standar pendidikan nasional itu. 



Reporter: AFN
Editor: Amar Faizal Haidar



Disarankan untuk anda